![]() |
| Kadis Indag Sulut Sanny Parengkuan (foto : ist) |
Demikian dikatakan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut Sanny Parengkuan. Dikatakannya, konsep hilirisasi dimaksudkan agar semua produk terutama yang diarahkan untuk ekspor, tidak dikirim dalam bentuk komoditas primer, tetapi telah ada nilai tambahnya. "Selama ini komoditas Sulut lebih didominasi produk primer, paling tinggi hanya berbentuk barang setengah jadi, kita ingin mengembangkan produk yang siap dikonsumsi," ujarnya.
Pengembangan komoditas unggulan berdasarkan konsep hilirisasi, lanjut Parengkuan, sekaligus juga sejalan dengan program pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Dengan adanya nilai tambah pada suatu produk, berarti harga suatu produk menjadi lebih mahal, ini yang ingin kita sasar, petani memperoleh pendapatan lebih besar dari sebelumnya," katanya.
Guna mendorong konsep hilirisasi diterapkan di Sulut, menurut Parengkuan, maka pemerintah daerah memberi kesempatan investasi di bidang industri."Kita mengundang investor yang bisa tanamkan modalnya di industri pengolahan guna mendorong konsep hilirisasi terlaksana di daerah ini," ungkapnya.
Diketahui, komoditas ekspor Propinsi Sulut hingga tahun ini masih didominasi produk turunan kelapa dalam bentuk bahan setengah jadi seperti minyak kelapa kasar."Minyak kelapa kasar atau crude coconut oil dikirim ke berbagai negara di kawasan Eropa, Asia, Afrika hingga Amerika Serikat," papar Parengkuan. [yg/mtr]
@
Tagged @ umum





